About UGM
IT Center
Library
Research
Webmail

Taman Buku di Belantara Malioboro

Posted by Administrator
Posted on
28
Oct
2014

Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata "Malioboro"? Deretan pernak-pernik khas, pedagang kakli lima yang ramah, atau mall-mall dan hotel yang berjajar rapi di sepanjang jalan? Sebagian orang mungkin juga akan mengidentikannya dengan warung makan lesehan yang eksotis di malam hari. Atau andong yang dan bau kotoran kuda, yang berseliweran menggoda indera penciuman para wisatawan. Ya, kawasan wisata malioboro memang identik dengan segala keriuhan pariwisata di Yogyakarta. Pasalnya, kawasan ini merupakan salah satu lokasi utama yang menjadi tujuan wisatawan saat berkunjung ke Yogyakarta.

Tak hanya itu, gedung-gedung pemerintahan pun sebagian terletak di kawasan ini. Sebut saja Kantor Gubernur(Kepatihan) dan Kantor DPRD DIY yang terletak di sisi Barat jalan Malioboro. Penginapan bagi para wisatawan pun tersedia di sini. Mulai dari hotel sekelas Inna Garuda, sampai hotel-hotel kelas melati yang berjejal di lorong-lorong sempit di kawasan Malioboro.

Melihat kenyataan itu, wajar saja rasanya jika kita menyebut berbagai objek wisata ketika mendengar kata Malioboro. Tapi, pernahkan terlintas “buku” saat anda mendengar kata Malioboro? Ah, rasanya tidak mungkin. Pasalnya, kebanyakan wisatawan yang datang ke Yogyakarta tentu mendambakan kegiatan refreshing, serta hal-hal yang menyenangkan. Dan, bagi sebagian besar orang, membaca buku tidak termasuk dalam daftar aktivitas yang menyenangkan.

Anehnya, di salah satu sudut di kawasan Malioboro, beberapa kios-kios memajang berbagai buku bekas. Tak tanggung-tanggung, jumlah buku bekas yang dipajang di satu kios berjumlah ratusan. Kebanyakan buku bekas ini juga tak berbahasa Indonesia. Pengunjungnya pun kebanyakan turis asing.

Tak percaya? Sesekali, jika melintasi kawasan Malioboro, berbeloklah ke Jalan Sosrowijayan, salah satu jalan di sisi timur Malioboro. Sekira 100 meter, berbeloklah ke gang di sisi kanan jalan. Dijamin, anda akan merasakan suasana yang sama sekali berbeda dari kawasan malioboro pada umumnya. Di gang tersebut, bangunan-bangunan rumah milik warga berjejer rapi. Rumah-rumah tersebut sebagian sudah disulap menjadi penginapan-penginapan. Beberapa di antaranya menjadi kios buku.

Sabtu(27/9) sore, suasana lengang langsung terasa ketika memasuki kawasan ini. Deretan tanaman, jalanan yang lengang, dan corak klasik bangunan menghadirkan nuansa tradisional yang ramah. Di beberapa jendela rumah terpampang pengumuman berbahasa Inggris “I Have Room”, tawaran bagi para wisatawan yang sedang mencari tempat bermalam.

Di antara penginapan tersebut, terdapat beberapa kios buku bekas. Kebanyakan buku tersebut berbahasa asing. Mulai dari Inggris, Belanda, Jepang, Prancis, Rusial, hingga bahasa Rusia dan Jepang. Ada juga buku hasil karya penulis ternama Indonesia, seperti Seno Gumira Ajidarma dan Pramoedya Ananta Toer edisi bahasa Inggris.

Amy, salah seorang pengelola kios bercerita, kios-kios tersebut telah ada sejak bertahun-tahun lalu. Awal mulanya, banyak turis yang meninggalkan bukunya begitu saja, atau berusaha menjual buku-buku yang mereka bawa dari negara asalnya. Sebabnya bermacam-macam, ada yang memang ingin menukarnya dengan uang, tapi kebanyakan karena ingin mengurangi beban bawaan. “Begitu sampai di sini, misalnya, mereka belanja sesuatu dan tasnya enggak muat. Terpaksalah buku-buku itu harus ditinggal,” kisahnya.

Terang saja, lama kelamaan semakin banyak buku yang menumpuk di kios yang awalnya merupakan kios souvenir itu. Hingga saat ini, masih banyak wisatawan asing yang datang ke kawasan itu. Baik hanya sekedar untuk melihat-lihat buku, ataupun juga untuk menukarkan buku yang ia bawa. Sebagian turis juga menjual buku yang ia bawa dari negara asalnya.

Meskipun bekas, kualitas buku yang ada di toko tersebut bisa dibilang cukup tinggi. Berbagai buku karya penulis ternama dunia bahkan juga terpampang di etalase. Sebut saja, misalnya, Leo Tolstoy, George Orwell, Paulo Coelho, hingga Mitch Albom dan Haruki Murakami. “Ya, karena belinya langsung dari pembaca, jadi kebanyakan bukunya yang bagus-bagus,” tutur Ramos.

Selain itu, kondisi fisik buku yang ada di sini pun masih terawat. Berbagai buku dengan beragam bahasa itu ditata di rak kayu, beberapa buku yang sudah usang pun dipajang di etalase kaca. Itu sebabnya beberapa turis merasa nyaman berkunjung ke sini.

Meursault, saah satunya. Wisatawan asal Prancis ini tengah berwisata dan menginap di salah satu penginapan di kawasan Dagen. Ia sengaja mampir ke kios buku ini, berbekal infoemasi dari salah seorang temannya. Menurutnya, kios-kios buku seperti ini sangat menyegarkan. “Kadang kita butuh tempat membaca buku setelah berhari-hari berkeliling menjelajahi tempat-tempat wisata yang riuh dan,” tuturnya dengan bahasa Inggris yang lancar.

Menurut Mersault, buku bisa menjadi oleh-oleh alternatif bagi wisatawan. Sebab, ada buku-buku yang sudah langka tapi bisa ditemukan di tempat-tempat buku bekas seperti ini. “Saya sendiri mencari karya-karya Albert Camus,” tuturnya.

Ya, di tengah keletihan setelah menempuh perjalanan jauh, sebagian orang mungkin akan membutuhkan waktu untuk bersantai di kamar penginapannya. Wisata buku pun bisa menjadi pilihan menarik. Atau, bagi anda yang menggemari berbagai literatur berbahasa asing, tak ada salahnya mencoba berkunjung ke taman buku di sudut Malioboro ini. (Ibnu Hajjar A)

Share This Post To :