About UGM
IT Center
Library
Research
Webmail

Kontemplasi Asketis si Manusia Kamar

Posted by Administrator
Posted on
03
Nov
2014

“Seperti orang lain yang lahir untuk mengokang bedil, mengelus ayam jagonya, dan memilih menjadi lelaki hina, pengemis. Saya hidup buat menulis.. duduk di sudut seorang diri di antara tumpukan buku di atas lantai dan kertas yang berceceran di mana-mana, dan ingin mengubah maut, kedegilan itu, jadi kegembiraan.”

Pria itu berperawakan kecil. Rambutnya gondrong, menjuntai sampai ke bahu. Pembawaannya santai dan ramah. Sesekali terdengar tawa saat ia melontarkan guyonan di sela-sela pertanyaan serius para pegiat pers mahasiswa yang sedang mewawancarainya.

“Nah, esai yang ini mbak pasti suka. Aku berani taruhan deh..” ujarnya kepada salah seorang mahasiswi yang sedang mewawancarainya. Ia pun menyodorkan lembaran esai berisi kalimat-kalimat puitis ke mahasiswi itu. “Kalau kamu suka, aku traktir kamu makan. Kalau kamu enggak suka, aku traktir makan juga,” sambungnya. Sontak saja ulah iseng Agus Rois disambut tawa para wartawan kampus.

Wawancara hari itu terkait terpilihnya Rois sebagai salah satu emerging writers di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2014. Rois adalah satu di antara 150 peserta dari 25 Negara yang terpilih dalam UWRF 2014. Selain Rois, ada 14 penulis Indonesia lainnya yang terpilih untuk menghadiri salah satu perhelatan sastra paling bergengsi se-Asia Tenggara itu.

‘Bakat iseng’ ternyata masih ia praktekkan saat mengirimkan esainya ke panitia seleksi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2014. Saat pertama kali mengirimkan esainya, ia menggunakan nama samaran. “Raisa”, nama pena yang digunakannya saat itu, sempat mengecoh beberapa media massa. “Waktu di-publish di media, yang dicantumkan ya nama samaranku itu,” jelas Rois dengan santai.

Nama samarannya itu juga sempat bikin repot salah satu stasiun radio. “Waktu itu MQ FM ceritanya mau mengundang penulis jogja yang terpilih UWRF buat on-air di studio mereka. Karena tahu dari media nama Raisa, yang dihubungi ya Raisa yang penyanyi itu. Raisa ditanyai bengong-bengong. Lah dia ndak ngerasa ngirim naskah ke UWRF kok, hahaha.”

Perihal alasan menggunakan nama pena itu, ia hanya menjawab santai. “Waktu itu bingung mau pake nama apa, ya sudah lah, pake nama Raisa saja, kepanjangannya ya Ra Isa Apa-Apa (tidak bisa apa-apa—red). Soalnya aku ki yo Ra Iso opo-opo je,” celetuknya.

Tapi keisengan itu tampaknya harus sedikit dikurangi. Pasalnya, saat perhelatan UWRF nanti, Rois dan para penulis terpilh lainnya diminta berbagi proses kreatif kepenulisan mereka. Rois juga diminta menjadi pembicara dalam sesi diskusi terkait persoalan sosial di Indonesia. “Di sana nanti aku disuruh ngomong soal Indonesia pasca-98 je, aysem ki,” sambatnya.

Pembawaan yang santai dan sedikit iseng itu memang cukup kontras dengan citra para penulis. Sebab, kebanyakan penulis dicitrakan dengan raut muka serius, kaku, dan cenderung pendiam. “Serius itu pas lagi nulis aja, kalau lagi ngobrol begini ya selo wae,” tuturnya.

Kalimat itu memang ia buktikan sendiri. Tulisan-tulisan Rois bisa dibilang bertolak 180 derajat dengan pembawaannya sehari-hari. Dalam esai-esainya, sama sekali tak ada nada bercanda. Beberapa istilah yang ia gunakan mungkin akan terasa asing di benak pembaca awam. Jangankan tertawa, sebagian mungkin harus mengikuti kata demi kata dengan begitu seksama.

Sebagai penulis, Rois bisa dibilang sangat cerdik dan teliti dalam hal pemilihan diksi. Runtutan gagasannya dibalut dengan gaya bahasa yang puitis, namun tetap dalam logika yang ketat. Karakter tulisannya itu bahkan terbawa saat ia harus menyelesaikan tugas akhirnya di Fakultas Filsafat. Alhasil, skripsinya itu ia tulis dengan gaya bahasa esai puisi. “Pembimbingku munyer-munyer baca skripsiku. Karena judul dan struktur kalimatnya dianggap enggak ilmiah, akhirnya mereka yang bikin judul, bab, dan sub bab, aku manut ae. Akhir e skripsiku enthuk B. hahaha.”

Karakter itu memang tampak jelas, bahkan dari untaian kalimat demi kalimat pembuka di setiap esainya. Dalam paragraf pembuka esainya yang berjudul “Pupuan”, misalnya, Rois menulis:

Ada sesuatu yang dingin, yang membubuhkan doa, merembes pelan-pelan, dan tetap setia, pada pohon yang basah dan sulit guyah. Gunung-gunung nun di sana. Langit biru dan awan-awan di atasnya. Suara beku yang pecah di antara batu, merdu burung yang terhimpun di ranting trembesi itu –entah akan kemana.

Dengan esai ini, Rois menyentak pembaca dengan narasi puitis yang mengajak bernostalgia pada segenap keindahan yang seolah akan segera hilang. Semacam romantisme yang rawan pada keindahan alam Pupuan semakin hari semakin digilas arus modernisasi. Ia pun mengakhiri narasinya dengan kecaman bernada satiris:

Mereka, para ksatria yang telah mengubah diri jadi resi, orang wingit itu, datang ke rimba menemui kembali pohon-pohon, dingin yang tak tergantikan, dan dari sana bergulat untuk mendapatkan kebenaran, untuk menyadari kefanaan. Menghilang bersama matahari. Berbaring di antara tumpukan jerami. Merunduk tiap kali di atas bak suci. Kini baginya semua puisi.

Tapi ketika hari itu sang raja meninggalkan kota, meninggal sebagai resi, orang awam hanya tahu bahwa si raja telah menghukum dirinya sendiri.[]

Berbekal esai ini, Rois berhasil merebut hati Dewan Kurator UWRF. Dari 500 lebih esai yang diterima, Dewan Kurator pun memilih “Pupuan” untuk diterbitkan dalam A Bilingual Anthology of Indonesian Writing Ubud Writers & Readers Festival 2014. Selain esai “Pupuan”, antologi tersebut juga memuat sembilan cerpen, satu naskah drama, empat puisi karya para emerging writers Indonesia lainnya.

Karya

Nama Agus Rois mungkin masih asing bagi sebagian penikmat sastra. Maklum, sejak awal menjadi mahasiswa di Fakultas Filsafat pada 2003, ia mengaku tidak begitu aktif menulis. “Bisa dibilang, di Balairung saya mulai intens belajar menulis,” ujarnya, merujuk salah satu organisasi Pers Mahasiswa di UGM. Saat menulis pun, ia hampir tak pernah mengirimkan puisi atau karya sastra apapun ke media massa. “Ya aku merasa tulisanku kualitasnya elek.”

Baru pada 2006 ia mulai mau menerbitkan tulisannya. Itu pun karena ada proyek menulis tentang Notonagoro, salah satu tokoh yang ia kagumi. Walhasil, tulisannya ikut diterbitkan dalam Notonagoro dan Pancasila (2006). Setelah itu ia mulai intens mengikutkan tulisannya ke dalam beberapa antologi, antara lain, Jawa: Setelah Tafsir Kebudayaan (2009), Habermas dan Senjakala Modernitas (2010), Ketika Kata (Tak Lagi) Bermakna: Kumpulan Puisi Wija Sasmaya(2011).

Setelah menerbitkan tulisan pun, Rois tak pernah terlibat dalam komunitas sastra apapun. “Pas namaku masuk daftar UWRF, beberapa pegiat komunitas sastra di Yogyakarta bilang ini nama yang asing, nyaris enggak pernah terdengar,” tutur Rois, mengutip pernyataan seorang temannya. Dalam proses kreatif kepenulisan Ia memang lebih memilih untuk menyendiri. “Aku memang manusia kamar. Aku lebih asik dengan duniaku sendiri, dengan buku-buku, dengan kesepianku,” tuturnya liris.

Saat ini Rois sedang menyiapkan karya tunggalnya yang pertama, sebuah kumpulan esai berjudul "Di Benoa, Saya Bertemu Siddharta". Antologi tersebut berisi 21 esai pendek yang ia pilih dari seluruh karyanya selama tiga bulan menetap di bali. “Dari awal Mei sampai akhir Juli 2013, hampir 50 esai pendek saya tulis di Renon, Denpasar, ditemani tiga ekor kucing. Tapi harus saya katakan, esai-esai saya itu bukan hal yang mewah, agung, megah. Saya menganggapnya selingan. Saya lebih suka menyebutnya coretan ringan dari sebuah perjalanan yang menyenangkan,” tulis Rois dalam pengantarnya untuk antologi tersebut.

Proyek penerbitan esai itu ia garap secara sederhana. Penerbitannya ia serahkan langsung kepada temannya dan hanya akan dicetak 300 eksemplar. “Ya aku tahu diri lah, siapa sih yang mau baca esai, tulisan yang bikin kerut dahi,” ucapnya.

Proses kreatif

Dalam proses menulis, Rois lebih suka melancong ke berbagai tempat dan merekam kesan yang ia tangkap dalam esai atau puisi. Ia menjalani ritual tersebut meskipun harus menunda waktu studinya. Baginya, semua itu cuma soal pilihan. “Aku lulus 8,5 tahun. Aku menghindari dihadapkan pada beban yang lebih besar: segera kerja, mencari perempuan, menikah, dan terpenjara oleh rutinitas hidup. Aku masih kepingin merdeka, jalan-jalan, menulis.”

Berbekal tabungan, atau dengan mendompleng proyek riset, Rois melampiaskan hasrat berpetualangnya. Berbulan-bulan di tanah Makassar, menyusuri pedalaman Kalimantan, hingga bermukim di Bali. Baginya, bali sudah jadi semacam mimpi masa kecil. “Barangkali Ubud, dengan semua kegaibannya, dengan ladang-ladang padinya yang hijau luas, dengan orang yang mondar-mandir dan duduk di teras kafe, adalah jimat keberuntungan saya.”

Proses itu dijalaninya dengan penuh kesadaran bahwa menjadi penulis memang bukan solusi bagi hasrat individu yang materalistis. “Seperti orang lain yang lahir untuk mengokang bedil, mengelus ayam jagonya, dan memilih menjadi lelaki hina, pengemis. Saya hidup buat menulis.. duduk di sudut seorang diri di antara tumpukan buku di atas lantai dan kertas yang berceceran di mana-mana, dan ingin mengubah maut, kedegilan itu, jadi kegembiraan.”

Bagi Rois, bisa hidup untuk menulis adalah sebuah kemewahan. Kemewahan dari sebuah pilihan keras kepala yang ia ambil, untuk sekadar tak hanyut ditelan arus zaman. “Kadang saya bertanya, di negeri saya, Indonesia, yang begitu banyak “kediktatoran” dan korupsi, menulis ialah kemewahan solipsis. Apa pentingnya? Saya menulis, karena tidak ingin ikut-ikutan gila di dalamnya, itu saja.”

Share This Post To :