About UGM
IT Center
Library
Research
Webmail

[KAGADEMIKA] DR. Abdul Rohman: Peneliti Kelas Dunia dari Fakultas Farmasi

Posted by Administrator
Posted on
03
Nov
2014

Salah satu tugas dosen berdasarkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, adalah meneliti. Inilah yang dilakukan oleh Abdul Rohman sepenuh hati. Dosen Fakultas Farmasi ini lebih memilih untuk tinggal di perguruan tinggi dan meneliti, alih-alih memilih bekerja di perusahaan besar

Abdul mengakui, dari awal memang ia lebih menikmati dunia kampus dan penelitian daripada terjun di dunia industri “Lebih minat meneliti saja. Dari awal, memang saya nggak pengen ke perusahaan. Hal ini saya syukuri dan terima. Menurut saya, dari sisi gaji, kenyamanan, dan kebebasan lebih enak menjadi peneliti. Kerjanya tidak seketat di perusahaan,” tuturnya enteng. Selain meneliti, ia pun menjadi editor di beberap ajurnal internasional seperti American Journal of Food Technology, Journal of Food and Pharmaceutical Sciences, Journal of Pharmacy and Allied health Sciences, dan Research Journal of Phytochemistry.

DR. Abdul Rahman telah menjadi peneliti kelas kakap. Kualitasnya telah mumpuni dan diakui dunia internasional. Dia mendapatkan penghargaan ProSPER.Net Young Scorpus Scientist Award untuk kategori pembangunan pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture). Ia didapuk sebagai first runner-up dalam ajang ini. Dia berhasil menyisihkan 100 kandidat peneliti muda lainnya dari berbagai negara dalam penyerahan penghargaan tersebut di Tokyo, Jepang pada 11-12 Juli 2014.

Untuk mendapatkan penghargaan tersebut harus melalui proses seleksi ketat. Salah satu parameter peniliaian adalah banyaknya rujukan terhadap publikasi riset di internasional yang terpantau oleh Scopus. Scopus adalah layanan database terbesar di dunia yang mengindeks publikasi di jurnal. Penelitian yang dilakukan pun mesti memberikan manfaat sosial bagi masyarakat. Selain itu, kuantitas publikasi dan paten dari peneliti pun menjadi hitungan tersendiri.

"Selain terpublikasi, syarat lainnya adalah para peneliti muda yang terhitung maksimal lima tahun lulus dari pendidikan master atau doktor," ungkap Abdul Rohman di kantor Laboratorium Penelitian Dan Pengujian Terpadu (LPPT) UGM.

Berdasarkan data di Scopus, lanjut dia, ada 63 publikasi miliknya di jurnal internasional dikutip sebanyak 395 kali oleh berbagai peneliti di berbagai negara. Beberapa jurnal yang yang memuat risetnya adalah International Journal of Food Properties, International Food Research, Journal of the American Oil Chemist Society dan Global Journal of Pharmacology. "Sebagian besar penelitiannya ada di jurnal di Amerika Serikat," katanya. Di tahun 2014 saja DR. Abdul Rohman M.Si, Apt., sebagaimana terindeks dalam scopus.com, telah mempublikasikan 10 naskah riset di berbagai jurnal internasional.

Tidak mudah mempublikasikan hasil riset di berbagi jurnal bertaraf internasional. Pada awalnya ditolak, namun dia tidak pernah putus asa. Dia pun tetap berusaha memilih mempublikasikan hasil risetnya di jurnal-jurnal berpengaruh dan berdampak besar pada kemajuan ilmu pengetahaun dan teknologi

"Publikasi di jurnal itu seperti melamar anak gadis. Naskah artikel publikasi saya sering ditolak, dikomentari, lalu diperbaiki sampai 3-4 kali, kadang baru diterima," ungkap alumnus Universiti Putra Malaisya. Namun, tak semua menolak. Ada beberapa jurnal yang langsung menerima dan mempublikasikannya. Para peneliti, umumnya mentok di level ini. Mereka hanya sekali mengirimkan dan tidak memperbaikinya bila naskahnya ditolak. Hasil riset yang dipublikasi di jurnal-jurnal tersebut menjadi rujukan bagi peneliti lain dari Malaysia, Spanyol dan Afganistan. Dia banyak membuat publikasi risetnya yang disitasi tersebut berkaitan dengan pengembangan analisis produk makanan halal lewat deteksi kandungan lemak, daging, dan gelatin babi pada produk makanan, kosmetik dan farmasi.

"Yang paling banyak disitasi itu tentang penelitian saya mengenai cara mendeteksi pemalsuan minyak zaitun yang dicampur minyak sawit. Saya mengembangkan cara deteksi kurang dari dua menit," kata alumnus Ponpes Raudlatul Ulum, Pati ini.

Pakar kimia analisis ini sekarang sedang meneliti dan telah mematenkan beberapa cara untuk mendeteksi kandungan lemak babi dalam makanan dan kosmetik. Salah satu cara mendeteksi kandungan babi pada makanan adalah dengan menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy and Chemometrics. Dengan menggunakan teknologi sinar inframerah, ia mampu mendeteksi gugus fungsional yang khas pada minyak dan lemak babi. Metode ini pun bisa digunakan untuk lemak sapi, kambing dan lemak lainnya yang memiliki intensitas serapan yang berbeda.

Budaya Meneliti di Perguruan Tinggi

Jarang sekali dosen yang memiliki intensitas dan kualitas meneliti dan menuliskan risetnya. Menurut Abdul Rohman, fenomena ini disebabkan kurangnya budaya menulis di kalangan dosen sendiri. “Menulis itu kan dari sisi reward nggak seberapa. Kalau saya melihat, seringkali menulis untuk jurnal itu diasosiasikan untuk kenaikan pangkat. Makanya, salahsatunya kalau dosen tidak ingin naik pangkat, ya tidak nulis,” ungkapnya. Demi meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian, sebetulnya pemberi dana sudah menyiasati dengan meminta output berupa publikasi. Namun, hal ini terbentur dengan sistem tahun anggaran. “Kadang dari pemberi dana pun hanya mengikuti progres sampai akhir tahun aja. Tidak diikuti sampai output publikasi. Biasanya para peneliti pun hanya mengirimkan draft. Di akhir tahun jadinya ya cuman draft itu saja,” lanjutnya.

Menurutnya, meneliti adalah hak dan kewajiban bagi para intelektual universitas. Hak dan kewajiban ini mestinya dinikmati dan dihikmati oleh mereka ini. “Kita enjoy aja, kan ini memang hak dan kewajiban kita. Tapi bolak-balik, ya kembali ke orangnya. Dia mau meneliti dan mempublikasikan atau tidak,” tuturnya.

Meskipun sekarang ia telah menjadi peneliti kelas dunia dalam bidang farmasi, mulanya ia tidak sengaja masuk jurusan ini. “Pertama kuliah di UNS selama setahun, kemudian ada kawan yang mengajak untuk daftar UMPTN. Awalnya saya nggak tau sama sekali apa itu Farmasi. Saya memilih Farmasi karena rasio antara yang daftar dan yang diterima lumayan tinggi, hanya sedikit yang diterima di sini,” kenangnya.

Bagi para sarjana baru dia hanya mengatakan untuk menikmati apa yang telah mereka capai. “Kalau mau lanjut kuliah ya harus tekun, mau wiraswasta ya harus tekun, di industri juga begitu. Dinikmati saja, soalnya mereka kan sudah merampungkan masa studinya. Nikmati saja apa hasilnya dan disyukuri. Kalau di awal kuliah sih saya bilang ke mahasiswa untuk mencapai prestasi, IPK sebagai boarding pass juga penting. Kalau sudah lulus, ya dinikmati saja semuanya,” pungkasnya. 

Share This Post To :