About UGM
IT Center
Library
Research
Webmail

[SOSOK] Muhammad Mustafied: Menjaga Keindonesiaan Melalui Pesantren

Posted by Administrator
Posted on
03
Nov
2014


Sejak mula, dunianya adalah dunia aktivisme dan keilmuan. Semenjak mahasiswa, Ahmad Mustafied aktif di organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Selain itu, ia juga pernah aktif sebagai jurnalis di pers mahasiswa BPPM Balairung UGM. Serampung studi di Fakultas Filsafat UGM, ia banyak mengembara dalam berbagai kegiatan intelektual dan aktivisme. “Jangan tanggung-tanggung, itu motto hidup saya,” katanya. Ia menuliskan beberapa karya di antaranya Pendidikan Kader Mahasiswa Kritis, Paradigma Kritis Transformatif (2004), Pelatihan untuk Organisasi Pelajar Nasional, Mengayuh Sampan dalam Kampung Global (2005), selain itu ia juga menerjemahkan Global Capitalism And The Death Of Democracy NoreenaHerzt (Perampok Negara, KuasaKapitalisme Global danMatinyaDemokrasi, 2005).

Belajar di lembaga pendidikan modern-formal, Mustafied tetap setia kepada latar belakangnya sebagai santri. Baginya, saat ini pesantren malah memiliki peran strategi untuk menanamkan nilai kebangsaan dan menjaga moralitas bangsa.

Menurutnya, pesantren dan madrasah telah berkiprah sejak jauh sebelum kata Indonesia dikenal, fase perjuangan bangsa, menjaga dan meningkatkan intelektualitas bangsa, pengembangan ilmu pengetahuan, ikut menyelesaikan persoalan-persoalan sosial-kemasyarakatan dan kebangsaan dengan spirit dan basis nilai keislaman tanpa tercerabut dari nilai-nilai luhur budaya bangsa. Telah berabad-abad, reputasi, keunggulan, dedikasi, kontribusi, maupun komitmen pesantren dan madrasah pesantren, berkontribusi kepada masyarakat, bangsa, negara dan umat manusia.

Menurutnya, ada sebuah model ideal dari pesantren yang dicontohkan oleh Sultan Demak yakni Raden Fattah. “Hampir 30 tahun sebelum kerajaan Majapahit runtuh, jauh sebelum Masjid Demak berdiri, Raden Fattah mendirikan pusat pendidikan di Kampung Sekayu, Semarang, tepatnya sekitar tahun 1476. Lembaga ini dibangun untuk membentuk semacam kader pelopor yang waktu itu bernama Bhayangkari Islahi, yang kelak menjadi operator tangguh dewan wali untuk menyebarkan Islam, realisasi strategi kebudayaan, maupun liason officer dalam gerakan dakwah, ekonomi, sosial, dan politik di wilayah pesisir. Kompleks ini kemudian dipindahkan ke Demak setahun setelah Majapahit jatuh, dan menyisakan untuk para penggemar kebudayaan, Masjid Sekayu, yang menjadi objek konservasi Kota semarang,” ungkap Mustafied.

“Dengan berjalannya waktu, dunia begitu cepat berkembang. Perubahan dan pergeseran terjadi di mana-mana. Mulai dari ekonomi, politik, sosial, budaya, teknologi, masyarakat, pendekatan kajian Islam, hingga permasalahan sosial kemasyarakatan. Masyarakat, pasar, dan negara mengalami transformasi besar-besaran. Akan tetapi, perubahan tersebut tidak berbanding lurus dengan perbaikan masyarakat dan negara yang baldatun thoyyibatun wa-robbun ghofur (negara yang baik dan dilindungi oleh Tuhan_red). Sebaliknya, kondisi dan realitas sosial yang ada semakin memprihatinkan. Akhlakul karimah semakin tidak mendapat tempat. Dalam wilayah lain, globalisasi menghadirkan arena kompetisi antar-individu berbasis keunggulan sumber daya manusia. Yang survive adalah mereka yang berkualitas dan menguasai teknologi informasi. Ruang di mana keunggulan dan keberhasilan sekelompok orang, komunitas, kelompok, dan negara harus selalu dibayar dengan keterpurukan yang lainnya. Inilah tantangan dan kesempatan yang mesti dihadapi pesantren saat ini,” pungkasnya.

Sampai akhirnya lahirlah impiannya, mendirikan sebuah pesantren bernama Pesantren Aswaja Nusantara. Pertengahan tahun 2011 pesantren ini memulai kegiatan belajar mengajar. “ Awal mula proses ta’lim ini adalah adanya sebuah peristiwa yang mendahuluinya. Peristiwa tersebut adalah adanya sebagian korban erupsi Merapi yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, baik di pesantren maupun di sekolah, di satu sisi. Di sisi lain, adanya jaringan para dermawan yang hendak berbagi kasih dan peduli terhadap mereka. Pada awal rencana, anak-anak tersebut hendak didistribusikan ke beberapa pesantren yang telah ada di Mlangi. Akan tetapi, ndilalah, baik community organiser yang menjadi pendamping anak-anak dan askhiya memiliki keinginan yang sama: lebih memilih dikelola di satu tempat yang sama, dan mendorong kami untuk melakukannya. Dari sana, kemudian berkonsultasi ke para guru dan kyai, yang secara umum memberikan restu, doa, dan dorongan untuk merintis pesantren ini,” kenang alumnus Fakultas Filsafat UGM ini.

Hal itulah yang menjadi pemicu kelahiran pesantren ini. Akan tetapi, jauh sebelumnya, Mustafied memang sudah memiliki impian untuk merintis pesantren yang fokus pada pelajar dan mahasiswa. Hal ini mengingat potensi strategis pelajar dan mahasiswa di Yogyakarta yang merupakan putra putri terbaik bangsa dari pelosok Nusantara, yang jika tidak dibina akan menjadi sasaran gerakan yang cenderung anti terhadap pemikiran Islam yang toleran dan ramah.

Selama proses beberapa bulan, pesantren ini berjalan tanpa nama, dan dengan infrastruktur seadanya. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan konsultasi, maka dipilihlah Aswaja Nusantara sebagai nama pesantren. “Nama adalah doa, harapan, agar ke depan dapat berjalan sesuai bingkai nilai-nilai Aswaja dan dapat berhidmah pada Nusantara, bahkan dunia, melalui titik pijak Nusantara,” kenangnya.

“Aswaja Nusantara terdiri dari dua kata. Aswaja dan Nusantara. Keduanya memiliki makna dan konteks tersendiri, namun gabungan keduanya juga membentuk makna baru tersendiri. Kata aswaja merupakan kependekan dari ahlus-sunnah wal-jamaah. Di Nusantara, istilah ini telah menjadi arena pertarungan semantik antar-organisasi dan antar-komunitas. Hal ini dapat dipahami mengingat istilah ini mengacu sebagai sebuah firqoh (kelompok) yang dijamin keselamatannya dalam hadits sahih. Wajar, jika term aswaja menjadi ruang kontestasi klaim: yang paling benar, di antara komunitas yang ada. Pesantren ini tidak dalam posisi ikut-ikutan secara latah atau klaim-mengklaim dalam perebutan hegemoni makna tersebut. Walaupun pada akhirnya, sebagai konsekuensi pemaknaan yang diambil, akan masuk dalam berbagai irisan kontestasi. Sementara itu, Nusantara mengacu pada pengertian lokus dan habitus kebudayaan yang khas, yang kemudian terlembagakan dalam nation-state yang bernama Indonesia. Nusantara diyakini memiliki konteks kebudayaan khas dan unik yang berbeda dengan belahan dunia lainnya, meskipun sejatinya juga sinkretik, sekaligus kosmopolit,” tuturnya menceritakan sejarah nama Aswaja Nusantara.

Ponpes Aswaja Nusantara telah menggaet berbagai pencapaian yang cukup mumpuni. Santri wakil pondok ini lolos seleksi dalam program Workshop Riset dari Asean Resecarh Institute dari National University of Singapore (NUS) pada 2013. Selain itu, Ponpes ini juga berhasil meloloskan 3 santri sebagai wakil dalam Youth Leadership Programme dari George Mason University Amerika di tahun 2014 ini. Para santri pun berkegiatan menerbitkan jurnal ilmiah Mlangi yang berisi wacana keislaman kontemporer dan kebangsaan. Selain itu, pesantren ini juga beberapa kali menjadi tempat dialog antar iman.

“Di sinilah Pondok Pesantren Aswaja Nusantara Mlangi terpanggil untuk ikut serta memberikan kontribusi dalam membangun dan mengembangkan pemikiran dan generasi muda dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini ditempuh dalam rangka mendorong lahirnya generasi muda bangsa yang beriman, bertaqwa, kritis, kreatif, dan kosmopolit, sebagai bagian dari mata rantai pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara yang berkarakter, menuju izzul Islam wal muslimin,” tegas alumnus Filsfat UGM ini.

Pesantren yang sekarang memiliki 40 santri menggunakan metode pembelajaran tradisional pesantren yakni bandongan (kyai membaca, santri menyimak), sorogan (santri membaca, kyai menyimak), bahtsul masa’il serta musyawarah. Namun tidak hanya itu, santri juga dikenalkan dengan materi-materi tematik aktual dengan metode short-course, serta live in dan kajian film. Selain itu, biaya pendidikan di Ponpes ini pun sangat terjangkau. Santri hanya dikenakan biaya SPP sebesar Rp. 50.000 dan iuran makan sebesar 150.000,- per bulannya.

Perpustakaan Mlangi pun menyediakan fasilitas yang lengkap bagi santri. Pesantren ini memiliki perpustakaan tiga bahasa : Indonesia, Arab dan Inggris yang berisi berbagai jurnal nasional dan internasional, buku, serta kitab-kitab babon kajian Islam. 

Share This Post To :