About UGM
IT Center
Library
Research
Webmail

Mencari Sosok Ketua Ideal

Posted by Administrator
Posted on
03
Nov
2014

Lima tahun lalu, tertanggal 23-26 Juli 2009, Munas KAGAMA XI digelar di Grha Sabha Pramana, UGM. Segenap pengurus dan anggota KAGAMA dari seluruh penjuru Indonesia hadir dengan disambut spanduk bertuliskan “Welcome Home, Alumni Universitas Gadjah Mada di Kampus Perjuangan”. Pada waktu itu, Sri Sultan Hamengkubuwono X terpilih sebagai Ketua Umum KAGAMA periode 2009-2014.

Tak terasa, sudah lima tahun berlalu. Pada 7-8 November mendatang, Munas KAGAMA kembali dilaksanakan. Munas KAGAMA XII akan diselenggarakan di Kendari dengan mengambil tema “Revitalisasi Negara Maritim yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian”. Di sanalah akan dipilih lagi Ketua KAGAMA yang baru untuk periode 2014-2019. Lantas, bagaimanakah sosok Ketua yang ideal?

Menurut Prof. Koento Wibisono Siswomihardjo, salah satu anggota Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO) KAGAMA, seorang Ketua KAGAMA, pertama-tama harus mempunyai visi yang jauh ke depan dan menghayati nilai-nilai ke-UGM-an untuk diwariskan dan ditularan kepada seluruh anggotanya. “Yang terpenting, punya pemahaman tentang visi misi UGM dan berusaha mewujudkannya,” ujar Dosen Filsafat yang sudah purna tugas itu saat dihubungi Kabare KAGAMA pada Sabtu (27/09) lalu. Selain itu, menurutnya, Ketua KAGAMA nantinya haruslah orang yang mempunyai kemampuan managerial yang memadai. “Juga seorang Ketua yang bisa bekerjasama dengan organisasi-organisasi alumni universitas lain, seperti UI, Padjajaran dlsb, agar tidak saling berkompetisi, tetapi bekerjasama,” ungkapnya.

Berbeda dengan Prof. Koento, menurut Prof. Dr. Sjafri Sairin, MA. yang terpenting, Ketua KAGAMA nantinya adalah orang yang mempunyai waktu untuk KAGAMA dan bersedia mewakafkan dirinya untuk KAGAMA. “Itu pokok. Tidak perlu tokoh pemerintahan, yang penting punya pengalaman dan dikenal baik di kalangan kampus,” kata beliau yang juga merupakan anggota DPO KAGAMA saat dihubungi Kabare KAGAMA pada Sabtu (27/09) lalu. Meski begitu, baik Prof. Koento maupun Prof. Sjafri sepakat bahwa idealnya, peran KAGAMA ialah memberikan seumbangsih pemikiran untuk pembangunan dan kemajuan Indonesia. “Pengurus seharusnya tidak hanya melantik, akan tetapi juga memberikan energi dan tidak harus berupa materi, tapi pemikiran kepada pengurus-pengurus daerah agar bisa hidup untuk kepentingan bangsa dan dapat membangkitkan kecintaan anggotanya pada KAGAMA,” imbuh Prof. Sjafri.

Dihubungi secara terpisah pada Sabtu (27/09) lalu, Firsty Anggraeni, salah seorang anggota KAGAMA yang kini bekerja di salah satu perusahaan media di Jakarta mengharapkan bahwa Ketua KAGAMA nantinya adalah sosok yang bisa merangkul semua anggota dan kalau bisa, dari golongan muda. “Kalau yang tua, buat yang baru (menjadi anggota KAGAMA. Red) jadi jauh,” paparnya. Senada dengan Firsty, M. Daniel Fahmi Rizal, salah seorang anggota KAGAMA yang melanjutkan studinya di UI juga berharap Ketua KAGAMA nantinya dapat merangkul semua pihak, termasuk yang ada di berbagai cabang di seluruh Indonesia. “Tidak harus tokoh, yang penting bisa total. Kalau tokoh, pasti sibuk dan nanti KAGAMA tidak terurus,” ungkap Daniel. 

Share This Post To :